Yang Mujarab Lindungi Sendi

Simak laporan WHO ini: 40 persen penduduk dunia berusia di atas 70 tahun akan menderita osteoarthritis lutut. Delapan puluh persen di antaranya mengalami keterbatasan gerak. Sungguh mencengangkan. Sayang, penyakit yang menghantui 50% manula di atas 60 tahun di Indonesia itu masih dipandang sebelah mata.

Penyebabnya memang beragam. Faktor genetis, obesitas, salah berolahraga, hingga pemakaian sepatu bersol tinggi berisiko mengakibatkan osteoarthritis. Yang jelas, belum ada obat ampuh melawan penyakit yang dikenal sebagai pengapuran sendi itu. Penderita akan mengalami nyeri dan linu pada bagian terserang. Banyak kasus terjadi di daerah panggul, jemari, dan lutut.

Osteoarthritis merupakan penyakit penipisan sendi penghubung tulang. Musababnya, kadar glukosamin dan kondroitin dalam tulang rawan menurun. Walhasil, sendi yang semula kenyal, licin, dan halus menjadi kasar, keras, dan kaku. Sendinya mengalami pengerasan yang disebut kalsifikasi. Di Indonesia terjadi salah kaprah yang menerjemahkan kalsifikasi sebagai bentuk pengapuran.

Umummya osteoarthritis menyerang usia lanjut sebagai bagian dari proses penuaan. Beberapa pasien biasanya diobati dengan terapi hormon dan fisioterapi. Pada stadium lanjut, terkadang operasi harus dijalani. ‘Fisioterapi tidak akan mengubah proses degeneratif,’ tutur dr Zen Djaja di Yogyakarta. Menurutnya dalam jangka panjang fisioterapi justru membuat kerusakan sendi semakin parah.

Yang tidak menyenangkan, pasien harus berkutat dengan obat peredam nyeri nonsteroid. Padahal, bila tidak digunakan dengan bijak, efek selanjutnya bisa menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan, terutama tukak lambung. Terapi hormon tak disarankan karena dalam jangka panjang dapat menimbulkan ketidakseimbangan hormon. Karena itu mencegah lebih baik daripada mengobati.

Temulawak

 

Herbal alternatif pengobatan yang cenderung aman. Ada beberapa jenis herbal yang dapat dipilih dalam pencegahan dan pengobatan osteoarthritis. Biasanya yang digunakan adalah yang mengandung senyawa aktif antiinflamasi. Di antaranya temulawak, mengkudu, dan teripang.

Secara turun-temurun temulawak diresepkan sebagai ramuan antipegal linu. Khasiatnya teruji saat Yaya Rukayadi membawa anggota famili Zingiberaceae terbang melintasi samudera menuju Korea Selatan. Di sana, temulawak didaulat menjadi fitofarmaka setelah melalui 10 tahun penelitian. Senyawa xanthorrizhol yang terkandung dalam rimpang kerabat zingiberaceae itu berkhasiat antiinflamasi, antikanker, penyembuh luka, dan penurun kolesterol.

Keampuhan temulawak mengusir peradangan pasien osteoarthritis dibuktikan oleh dr Nyoma Kertia SPPD-KR, spesialis reumatologi dan penyakit dalam. Pada 1997, ia melakukan uji klinis terhadap 22 orang pasien osteoarthritis lutut usia di atas 50 tahun. Dosisnya 15 mg corcominoid dicampur 200 mg minyak asiri temulawak di berikan dua kali sehari selama dua minggu.

Hasilnya sungguh menggembirakan. Berdasarkan gejala klinis, khasiat temulawak itu imbang dengan obat-obatan nonsteroid seperti piroxicam. Piroxicam adalah obat antiinflamasi nonsteroid yang biasa diberikan sebagai pereda rasa nyeri. Sayang, dalam jangka panjang obat-obatan nonsteroid berefek negatif pada liver, ginjal, dan pencernaan. Temulawak unggul karena tidak memiliki efek toksik. Selain itu harganya murah dan mudah didapat.

‘Variabel peradangan seperti angka leukosit dan viskositas cairan menunjukkan cairan sendi mengalami perbaikan,’ kata Nyoman. Artinya, temulawak mampu memperlambat proses degeneratif sendi. Selain itu, Curcuma xanthorriza juga memiliki potensi sebagai hepatoprotektor dan kaya antioksidan. Dokter yang gencar mengkampanyekan gerakan nasional minum temulawak setahun terakhir itu masih melakukan penelitian lanjutan.

Mengkudu

 

Herbal lain yang juga moncer menghadang pengapuran tulang adalah mengkudu. Anggota famili Rubiaceae itu terbukti mengandung zat analgesik scopoletin dan antraquinon yang memiliki efek antihipertensi dan antiradang. Morinda citrifolia juga mengandung asam askorbat, damnacanthal, xeronine, proxeronine, dan serotonin yang berperan dalam metabolisme tubuh. Herbal yang berkhasiat serupa adalah sambiloto.

Tak sudi mengecap pahitnya mengkudu? dr Zen Djaja menyarankan konsumsi teripang, sirip ikan hiu, dan kerang-kerangan yang kaya kondroitin. Kondroitin mampu memperlambat proses osteoarthritis dan bertanggung jawab dalam perbaikan sendi. Tak hanya itu, ia berperan sebagai pelumas yang dapat meringankan nyeri akibat osteoarthritis.

Ekstrak teripang mengandung kolagen, MPS (mucopolusacarida), DHA (docosahexaenoic acid) dan EPA (eicosapentaenoic acid). ‘Kolagen baik untuk peremajaan dan pembentukan sel-sel jaringan ikat,’ kata Zen Djaja. MPS dalam bentuk kondroitin sulfat memulihkan sendi dan membangun tulang rawan. Pilih herbal yang mana? Keputusan di tangan Anda. (Andretha Helmina)

dari Majalah Trubus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s