Penggerus Kanker Usus

Gunawati tidak pernah menyangka sakit perut yang kerap menyiksa mengantarkannya ke meja operasi. Awal 2006, perutnya kerap melilit. Ketika suatu pagi menemukan darah dalam feses, ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Di Rumahsakit Budi Mulia, Surabaya, ibu 2 anak itu ditangani 2 dokter, spesialis kandungan dan ahli penyakit dalam. Hasilnya: ada benda asing di rahim seukuran telur. Selain itu, dalam usus besar juga tampak ada polip yang mulai menyebar. Menurut dokter, polip dalam usus besar merupakan tanda-tanda awal terjangkit kanker usus. Atas saran dokter, Gunawati melakukan rawat inap. Selama 10 hari opname, dia diharuskan mengkonsumsi berbagai obat-obatan.

Trenyuh melihat kondisi Gunawati, beberapa kerabat memindahkan perawatan ke Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Di negeri Singa itu dokter memeriksa Gunawati lebih intensif, seperti papsmear dan ultrasonografi. Hasilnya mengejutkan, dalam usus besarnya ditemukan 14.000 polip. Padahal, normalnya dalam usus besar harus tanpa polip. Umumnya polip disebabkan kurang konsumsi serat.

Banyaknya jumlah polip dalam usus besar Gunawati menyebabkan dokter memutuskan polipektomi atau operasi pembuangan polip sekaligus mioma dalam rahim. Dua minggu setelah operasi, pemilik kedai ayam goreng itu kembali memeriksakan diri ke dokter. Melalui pemeriksaan darah, dokter mengetahui 4.000 polip tersisa dalam usus besar Gunawati. ‘Kok bisa ya? Padahal kan sudah dioperasi,’ ujar Gunawati menirukan ucapan dokter. Kecewa dengan hasil pengobatan di sana, ia pun memutuskan kembali ke tanahair.

Cryptomonadales

Tiba di tanahair, adiknya menawarkan cryptomonadales. ‘Siapa tahu bisa membuat badanmu kuat,’ tutur sang adik sembari menyodorkan sebotol cryptomonadales. Cryptomonadales adalah tumbuhan bersel satu. Gunawati pun mulai mengkonsumsi 10 tablet alga hijau biru itu setiap hari. Setelah 5 hari mengkonsumsi 50 tablet thallophyta-tumbuhan tanpa akar, batang, dan daun sejati-itu, perubahan mulai dirasakannya. Tubuhnya lebih bertenaga.

Setahun setelah mengkonsumsi cryptomonadales Gunawati kembali memeriksakan diri ke Singapura. Hasilnya, di usus besarnya hanya tersisa 9,8 polip. ‘Dokter saja sampai kaget kok bisa turun banyak sekali,’ katanya sumringah. Puas dengan hasilnya, Gunawati memutuskan untuk terus mengkonsumsi in chao-sebutan cryptomonadales di Taiwan. Upaya itu diimbangi dengan pengurangan konsumsi kepiting, udang, dan daging merah. Kesehatan kelahiran Semarang itu pun kembali pulih.

Perihal cryptomonadales tokcer melawan kanker sudah dibuktikan oleh Prof Wang Shun Te, mantan guru besar Pingtung Technology University di Taiwan. Penelitian selama 30 tahun berhasil menemukan kandungan senyawa yang menyusun tumbuhan supermini berukuran 7 mikron-seukuran debu-itu. Senyawa yang paling spektakuler adalah Peroxisome Proliferator Activated Receptors alias PPARs. Senyawa aktif itu diperoleh dari ekstraksi nukleus atau inti sel cryptomonadales.

Ada 3 bentuk PPARs yakni alfa, beta, dan gamma. Secara umum, PPARs berperan sebagai reseptor yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh. Suplemen seperti alga biasanya bersifat proliferasi, artinya memperbanyak reseptor. Fungsi lain dari PPARs adalah untuk merangsang sel T. Sel itulah yang menjadi salah satu bagian dari sistem kekebalan tubuh.

Menurut dr Sri Budiwati dari klinik Herbs Medicine, Surabaya, dalam cryptomonadales terkandung berbagai senyawa spesial yang mampu melawan kanker. Pendapat itu sejalan dengan penelitian dr Ih Jen Su PhD, dosen Fakultas Kedokteran National Cheng Kung, University Taiwan. Ih Jen Su berhasil menemukan senyawa fikosianin dalam cryptomonadales. Senyawa itulah yang dipercaya sebagai antivirus dan tokcer melawan sel kanker. Mekanisme untuk mengatasi serangan sel kanker secara apoptosis. Penjelasan sederhananya, fikosianin menyebabkan sel kanker bunuh diri.

Bakteri

Menurut Yu-Sheng Chao PhD, peneliti Bioteknologi dan Farmasi National Health Research Institute, fikosianin juga berfaedah sebagai antioksidan yang membangun sistem kekebalan tubuh. Caranya dengan meningkatkan limfosit alias sel darah putih. Semua bibit penyakit yang masuk lewat aliran darah akan dilibas oleh sel darah putih itu.

Cryptomonadales juga disusun oleh komponen bernama Chlorella Growth Factor alias CGF. Tidak semua ganggang mempunyai kandungan growth factor. Hasil penelitian Dr Fujimaki, dari People’s Scientific Research Center di Tokyo berhasil menemukan manfaat CGF, yaitu membantu pertumbuhan bakteri berguna dalam usus besar. ‘Kolon dihuni oleh 300-400 jenis bakteri,’ kata dr Otjoeng Handajanto, ahli hidroterapi kolon di Bandung. Salah satu jenis bakteri yang berguna adalah Lactobacillus acidophilus.

Bakteri baik yang dikenal dengan istilah mikroflora itu berguna untuk memberikan perlindungan dengan menyerang bakteri merugikan alias patogen. Mekanismenya dengan membentuk asam-asam organik, terutama asam lemak volatile dan memproduksi antibakteri selain asam. Jika bakteri baik menurun, mereka tak mampu melawan patogen.

‘Konsumsi makanan berpengawet dan polusi bisa membunuh bakteri baik dalam usus,’ tambah Otjoeng. Padahal, bakteri itu sangat bermanfaat dalam menjaga ketahanan tubuh manusia. Bila ketahanan tubuh anjlok, maka penyakit pun mudah menyerang. Di sinilah peran lain dari CGF dalam cryptomonadales. Ia mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara mengaktifkan sel-sel tubuh sehingga fungsi metabolisme berjalan normal. (Lani Marliani/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan)

 dari Majalah Trubus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s